BUDAYA POSITIF

 

Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Budaya positif hendaknya menjadi karakter guru, murid, serta semua warga sekolah. Sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam, sehingga guru harus mengusahakan sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga dan melindungi murid dari hal-hal yang tak baik.

Budaya positif, erat kaitannya denga disiplin positif. Disiplin positif merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif yang kita cita-citakan di sekolah. Budaya positif akan terwujud jika semua warga sekolah memiliki motivasi intrinsik untuk bersikap disiplin. Perilaku disiplin dilakukan bukan untuk menghindari hukuman ataupun mendapatkan imbalan namun karena memiliki rasa tanggung jawab dan keinginan untuk menghargai diri sendiri.

Budaya positif tidak dapat diwujudkan serta merta (instant). Ada konsep-konsep yang harus dipahami oleh seorang guru sebelum menerapkan disiplin positif, yaitu:

1.      Konsep tentang pemenuhan  kebutuhan dasar manusia

2.      Keyakinan kelas

3.      Posisi kontrol guru

4.      Restitusi

 

 

 

Kebutuhan Dasar Manusia – Dr. William Glasser

Semua tindakan seseorang memiliki tujuan tertentu. Tindakan yang dilakukan itu pada dasarnya untuk memenuhi salah satu atau lebih dari kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar itu yakni, kebutuhan untuk bertahan hidup, cinta dan kasih sayang, pengakuan atas kemampuan, kebebasan, dan kesenangan. Perilaku seorang murid yang melanggar peraturan dikatakan bahwa sebenarnya mereka gagal memenuhi kebutuhan dasarnya.

Keyakinan Kelas

Keyakinan kelas adalah nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang diyakini dan disepakati bersama. Bila disepakati di kelas bisa disebut keyakinan kelas. Namun bila disepakati seluruh warga sekolah bisa disebut keyakinan sekolah. Nilai-nilai kebajikan tersebut misalnya, bersikap sopan terhadap guru, memakai sepatu ketika memasuki sekolah, mengangkat tangan ketika hendak berpendapat, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Nilai-nilai kebajikan yang diyakini bersama akan lebih menggerakkan seseorang dibandingkan sekedar mengikuti serangkaian peraturan-peraturan.

Posisi Kontrol Guru

Posisi kontrol guru adalah penempatan sikap guru dalam menghadapi pelanggaran atas peraturan atau keyakinan kelas. Bersandar pada teori kontrol Dr. William Glasser, Diane Gossen mengemukakan lima posisi kontrol guru. Kelima posisi kontrol tersebut adalah sebagai Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau, dan Manajer.

Posisi Kontrol Guru

Dalam penerapan disiplin sehari-hari, bisa saja kita akan kembali ke posisi Teman atau Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap diajak berdiskusi. Namun perlu disadari tujuan akhir dari posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.

Restitusi

Restitusi merupakan proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka. Restitusi mengajarkan anak untuk mencari solusi secara kolaboratif. Restitusi membantu anak memulihkan diri dari kesalahan dengan menekankan pada menghargai nilai-nilai kebajikan. Melalui Restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan mengajak murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka.

 

Tahapan Restitusi

Bagian dasar dari segitiga, menstabilkan identitas, bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Hal ini dilakukan dengan menyampaikan kalimat yang meyakinkan bahwa berbuat salah itu tidak apa-apa, kemudian ajak anak untuk mencari solusinya bersama-sama.

Sisi kedua, validasi tindakan salah. Hubungkan perilaku anak dengan konsep kebutuhan dasar manusia. Pastinya anak memiliki alasan atas perilakunya yang salah. Bila kita memahami alasan anak melakukan sesuatu, maka dia akan merasa dipahami. 

Sisi ketiga, menanyakan keyakinan. Hubungkan dengan keyakinan kelas dan nilai-nilai yang dia percaya, sehingga ia berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak tetap fokus pada gambaran tersebut. Dalam prakteknya, tahapan-tahapan restitusi ini tidak harus dilakukan secara urut. bisa saja dimulai dari validasi kemudian identifikasi dan selanjutnya menanyakan keyakinan.

Saling memaafkan bukan berarti masalah selesai. Pada restitusi, guru mengajak anak untuk memahami diri dan orang lain. Restitusi memerlukan waktu yang panjang dan mungkin saja harus dilakukan berulang pada anak yang sama dan dengan kasus yang sama pula. Restitusi bukanlah untuk mencari dan menghukum yang salah. Namun untuk menemukan solusi yang memenangkan kedua belah pihak.

Demikianlah sedikit penjabaran tentang budaya positif yang saya pahami. Semoga penjelasan singkat ini mampu memberikan setitik cahaya perubahan untuk kita. Marilah mulai bergerak untuk membangun budaya positif di sekolah kita masing-masing. Dimulai dengan mengangankan situasi positif yang ingin tercipta di sekolah, kemudian ambil pelajaran dan gali potensi diri. Ajak rekan sejawat untuk menyusun rencana yang jelas, lalu atur dan laksanakan rencana. 




 

Komentar